Saturday, July 4, 2020

Sabar

Saya sudah 3 tahun menikah. Saya dengan istri sama² bekerja, dan tempat kerja kami sama² jauh. Akhirnya kami memutuskan menjual tanah warisan dari orang tua saya untuk membeli rumah dekat tempat kerja istri. Tak lama kemudian ayah saya meninggal dan ibu saya sendirian, dan saya memutuskan mengajak ibu saya ikut kami. Rumah saya yang baru sekarang di renovasi. Dibantu uang dari saya 5jt, ibu saya 22jt dan istri saya 5jt (dianggap hutang). Dengan uang tersebut orang tua saya ingin teras dan dapur di keramik dan saya menuruti karena beliau ibu saya dan rumah ini termasuk dari tanah beliau yang diberikan ke saya dan juga biaya renov yang diberikan beliau ke saya cuma². Namun sayangnya istri saya tidak setuju dikeramik dengan alasan boros dan lain². Tentulah saya akhirnya memberi pengertian kalau saya sama istri di sini itu sudah banyak difasilitasi oleh orang tua saya, apa salahnya berbalas budi dengan menuruti keinginam ibu saya, toh beliau ikhlas memberi bantuan renovasi rumah yang tidak sedikit pula. Tetapi istri saya malah su'udzon kalau saya tidak adil memperlakukannya. Padahal saya bersama ibu sudah rela beli rumah baru untuk istri biar tidak capek kerjanya. Jarak rumah kami yang baru hanya 500m dari tempat kerja istri dan 10km ke tempat kerja saya. Saya sudah mengalah kerja tambah jauh tp kenapa masih di su'udzon i. Toh uang renov 5jt dari istri nanti saya kembalikan lagi karena dianggap hutang. Saya juga sudah dianggap tidak adil, padahal kenyataannya sayalah yang kurang adil terhadap orang tua saya terutama ibu saya. Gaji saya 100% saya beri ke istri, ibu saya beri dari uang tunjangan saya, dan untuk saya sendiri hanya pegang 300rb untuk bensin dan pulsa saja. Setiap ada lembur saya kasih ke istri semua saya juga gpp. Ibu saya juga saya kasih tapi tidak sesering istri saya. Namun ibu saya tidak apa² dan bilang "yang penting kamu sehat nak, insyaallah ibu cukup". Saya jadi sedih atas diri saya sendiri, terkadang sering terlintas di benak saya "andai istriku seperti ibuku" yah tapi setiap manusia punya karakter masing² akhirnya saya sadar dan bersyukur, setidaknya istri saya bukan seorang pemboros, walau pelitnya ga ketulungan 😄.

Tulisan ini sekedar curhatan saja, terimakasih

Sunday, June 14, 2020

Diary

Minggu, 14 Juni 2020

Kepala penat terasa, dimana istri sering membantah perkataanku, semua keuangan dikuasai. Walaupun terlihat seperti pasangan pada umumnya tapi kehidupanku tak seperti itu. Setiap keputusan yang aku buat rata2 dibantah semua harus sesuai dengan apa kata dia. Sudah ku mencoba menasehati, aku ingatkan agar jangan seperti itu karena tidak baik. Urusanku pribadi dengan ibuku saja istriku ikut campur dan mengatur aku harus begini dan begitu sesuai keinginannya. Aku memang bahagia sih selama ini karena diberi rejeki yang berkecukupan dan kesehatan oleh Allah SWT. Hanya saja aku ingin mengungkapkan isi hatiku entah kemana, jika tak kuungkap aku bisa stres, aku tak ingin curhat pada ibuku karena tak ingin ibuku sakit hati atas perlakuan istriku padaku. Aku tak bisa curhat pada temanku, karena sama dengan mengumbar aib keluargaku. Hanya menulis catatan ini yang kubisa, karena tak ada yang tau siapa aku.
Aku sangat ingin istriku menghargaiku, aku tidak menginginkan perceraian walau aku sudah tak tahan. Walaupun ku belum punya anak. Aku dan istriku sama2 bekerja, 100% gajiku untuk istriku dan hasil bonus kerjaku untuk ibuku, aku hanya pegang uang cukup untuk bensin dan pulsa saja, ya tak apalah. Aku juga tidak pernah menanyakan uang istri karena bukan hak dariku, tapi terkadang ketika motorku butuh servis istriku mengomel padahal aku pakai uang sendiri, aku bekerja menggunakan motor butut yang 15 tahun menemaniku, wajar ya motor tua kalau butuh bengkel. Untuk masalah keuangan istriku selalu perhitungan bahkan aku ingin memberi ibuku uang aku harus dapat persetujuan istri. Tak jarang terjadi percekcokan diantara kami, akan tetapi akhirnya aku harus mengalah, karena cowok selalu salah hehe...
Sebenarnya banyak masalah sih dalam rumah tangga, ya gpp lah dijalani aja...
Ya semoga aku kuat ...

Maafkan aku ya istriku karena aku bukan manusia sempurna, aku cuman pegawai biasa2 yang sewaktu2 bisa di PHK, semoga hatimu diberikan kesadaran Allah SWT... aamiin

Nb : ini adalah curhatan pribadi pelepas stres mohon tidak dimasukan hati, terimakasih