Saya sudah 3 tahun menikah. Saya dengan istri sama² bekerja, dan tempat kerja kami sama² jauh. Akhirnya kami memutuskan menjual tanah warisan dari orang tua saya untuk membeli rumah dekat tempat kerja istri. Tak lama kemudian ayah saya meninggal dan ibu saya sendirian, dan saya memutuskan mengajak ibu saya ikut kami. Rumah saya yang baru sekarang di renovasi. Dibantu uang dari saya 5jt, ibu saya 22jt dan istri saya 5jt (dianggap hutang). Dengan uang tersebut orang tua saya ingin teras dan dapur di keramik dan saya menuruti karena beliau ibu saya dan rumah ini termasuk dari tanah beliau yang diberikan ke saya dan juga biaya renov yang diberikan beliau ke saya cuma². Namun sayangnya istri saya tidak setuju dikeramik dengan alasan boros dan lain². Tentulah saya akhirnya memberi pengertian kalau saya sama istri di sini itu sudah banyak difasilitasi oleh orang tua saya, apa salahnya berbalas budi dengan menuruti keinginam ibu saya, toh beliau ikhlas memberi bantuan renovasi rumah yang tidak sedikit pula. Tetapi istri saya malah su'udzon kalau saya tidak adil memperlakukannya. Padahal saya bersama ibu sudah rela beli rumah baru untuk istri biar tidak capek kerjanya. Jarak rumah kami yang baru hanya 500m dari tempat kerja istri dan 10km ke tempat kerja saya. Saya sudah mengalah kerja tambah jauh tp kenapa masih di su'udzon i. Toh uang renov 5jt dari istri nanti saya kembalikan lagi karena dianggap hutang. Saya juga sudah dianggap tidak adil, padahal kenyataannya sayalah yang kurang adil terhadap orang tua saya terutama ibu saya. Gaji saya 100% saya beri ke istri, ibu saya beri dari uang tunjangan saya, dan untuk saya sendiri hanya pegang 300rb untuk bensin dan pulsa saja. Setiap ada lembur saya kasih ke istri semua saya juga gpp. Ibu saya juga saya kasih tapi tidak sesering istri saya. Namun ibu saya tidak apa² dan bilang "yang penting kamu sehat nak, insyaallah ibu cukup". Saya jadi sedih atas diri saya sendiri, terkadang sering terlintas di benak saya "andai istriku seperti ibuku" yah tapi setiap manusia punya karakter masing² akhirnya saya sadar dan bersyukur, setidaknya istri saya bukan seorang pemboros, walau pelitnya ga ketulungan 😄.
Tulisan ini sekedar curhatan saja, terimakasih